Perkuat Publikasi, PBio UMM Jalin Kerjasama dengan HPPBI dan KPBI

Solo — Upaya memperkuat jejaring publikasi ilmiah dan kolaborasi akademik terus dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (PBio UMM). Langkah terbaru diwujudkan melalui pertemuan strategis bersama Himpunan Peneliti dan Pendidik Biologi Indonesia (HPPBI) serta Konsorsium Pendidikan Biologi Indonesia (KPBI) pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di ruang Program Studi Magister (S2) Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS). Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membangun sinergi dalam pengelolaan jurnal ilmiah, peningkatan kualitas publikasi, serta perluasan jejaring kolaborasi riset dan pendidikan biologi di tingkat nasional. Delegasi Pendidikan Biologi UMM diwakili oleh Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dan Ahmad Fauzi, S.Pd., M.Pd., yang turut berdiskusi langsung dengan para pengurus organisasi profesi tersebut. Fokus utama kerjasama diarahkan pada penguatan pengelolaan jurnal ilmiah yang selama ini menjadi salah satu pilar kontribusi PBio UMM dalam pengembangan pendidikan dan penelitian biologi. Tiga jurnal yang menjadi perhatian dalam kerjasama ini adalah JPBI (Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia) serta GTLabs (Green and Tropical Laboratory for Sustainability) yang dikelola Program Studi S1 Pendidikan Biologi UMM, serta Jurnal RaDEn (Research and Development in Education) yang dikelola Program Studi Magister Pendidikan Biologi UMM. Ketua HPPBI, Murni Ramli, SP, M.Si., Ed.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah nasional. Ia menyampaikan bahwa jurnal-jurnal pendidikan biologi Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan internasional apabila dikelola secara kolaboratif dan konsisten menjaga standar mutu publikasi. “Kolaborasi ini sangat penting karena tantangan publikasi ilmiah sekarang bukan hanya soal kuantitas artikel, tetapi bagaimana memastikan kualitas penelitian dan relevansinya bagi perkembangan pendidikan biologi di Indonesia,” ujar Murni Ramli. Ia juga menambahkan bahwa HPPBI siap menjadi mitra strategis dalam mendukung proses peningkatan kualitas jurnal, mulai dari penguatan jaringan reviewer, peningkatan kapasitas editor, hingga kolaborasi riset lintas institusi. Menurutnya, kerja sama seperti ini dapat mempercepat peningkatan reputasi jurnal-jurnal nasional di kancah internasional. Senada dengan hal tersebut, Ketua KPBI, Dr. Bowo Sugiharto, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa pengelolaan jurnal saat ini harus berorientasi pada kolaborasi nasional, bukan sekadar kerja individual perguruan tinggi. Ia menilai langkah PBio UMM menggandeng organisasi profesi dan konsorsium pendidikan biologi merupakan strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan publikasi global. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa konsorsium siap memperluas jejaring kolaborasi penelitian antar perguruan tinggi agar jurnal yang dikelola tidak hanya menerima artikel dari institusi tertentu, tetapi menjadi wadah nasional bagi para akademisi pendidikan biologi. “Kami berharap kerjasama ini dapat menjadi model kolaborasi nasional dalam penguatan jurnal pendidikan biologi sehingga kualitas publikasi Indonesia semakin diakui secara internasional,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Program Studi Pendidikan Biologi UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi penguatan reputasi akademik program studi. Ia menegaskan bahwa pengelolaan jurnal ilmiah bukan hanya soal penerbitan artikel, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab akademik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa PBio UMM selama ini berkomitmen menjaga kualitas jurnal melalui proses editorial yang ketat serta peningkatan jejaring penulis dan reviewer internasional. Namun demikian, kolaborasi nasional tetap diperlukan agar proses pengembangan jurnal dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Menurutnya, keterlibatan organisasi profesi dan konsorsium akan membantu meningkatkan visibilitas jurnal serta memperluas kontribusi akademisi di berbagai daerah. Ia juga menekankan bahwa sinergi ini menjadi peluang besar bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam publikasi ilmiah berkualitas. Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi yang produktif, di mana berbagai peluang kerjasama lanjutan turut dibahas, termasuk program pelatihan editorial, workshop publikasi internasional, serta peluang riset kolaboratif antar institusi. Dr. Husamah, yang hadir mewakili PBio UMM, menilai pertemuan ini sebagai langkah awal untuk membangun jejaring publikasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa penguatan jurnal tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kolaborasi nasional agar kualitas publikasi ilmiah Indonesia mampu bersaing secara global. Ahmad Fauzi menambahkan bahwa dukungan organisasi profesi akan membantu memperluas jaringan penulis dan reviewer sehingga kualitas artikel yang diterbitkan dapat terus meningkat. Pertemuan ini juga diharapkan menjadi awal kerja sama jangka panjang antara PBio UMM, HPPBI, dan KPBI dalam berbagai program pengembangan pendidikan biologi, termasuk penguatan riset berbasis kebutuhan masyarakat dan pengembangan pembelajaran inovatif di perguruan tinggi maupun sekolah. Dengan terjalinnya kerjasama ini, PBio UMM optimistis bahwa pengelolaan jurnal ilmiah yang dikelola program studi akan semakin kuat, profesional, serta memiliki jangkauan pembaca yang lebih luas. Sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi akademisi dalam pengembangan pendidikan biologi di masa depan. Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen PBio UMM untuk terus berperan aktif dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional serta memperkuat posisi pendidikan biologi Indonesia di tingkat global melalui kolaborasi dan inovasi berkelanjutan.  

Kapal Garden UMM Tawarkan Nuansa Iftar di Kapal Pesiar

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spesial yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Bagaimana tidak, di bulan ini bertebaran kebaikan dan keberkahan dilipatgandakan. Untuk itu, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, Kapal Rooftop Cafe gelar launching menu dengan tema “Rasa Ramadan”. Acara yang dilaksanakan pada 21 Februari lalu tersebut dihadiri oleh para rekan tamu undangan dari berbagai elemen kalangan masyarakat yang berkesempatan juga menikmati hidangan. Uniknya, dibalik pemilihan diksi tema yang fresh, Manager Kapal Garden Hotel by UMM, Teguh Hadi Saputro menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung dalam tema makanan itu. Yakni kehangatan, kebersamaan, dan kebahagiaan dibalik berbagai cita rasa menyambut bulan suci Ramadan. “Tujuan utama kami adalah konsep berbuka puasa di kapal. Selain itu, khusus acara ini kami menghadirkan berbagai sajian menu primadona dengan nuansa bak berbuka di deck atas kapal pesiar. Harapannya hal-hal ini nantinya siap menemani waktu berbuka puasa para tamu hotel maupun para pengunjung,” ungkapnya Dibandingkan hanya memilih satu tema sajian menu, Teguh menyebut pelayanan mereka tetap menonjolkan ciri khas Kapal Rooftop dengan variasi menu Nusantara, Chinese, Timur Tengah, dan Western. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Di antaranya rendang, gado-gado, nasi kebuli, puding, kolak, dan masih banyak lagi. Menariknya, penawaran tersebut bisa dinikmati oleh semua kalangan dengan range budget yang bervariatif dari low hingga high budget. Sajian-sajian menu dan pengalaman ini tentunya hanya bisa dinikmati di Kapal Garden Hotel dan Café. “Selalu ada penawaran eksklusif untuk momen spesial. Untuk itu, kami sediakan pilihan berbagai paket yaitu, ala carte, paket grup, dan buffet. Paket grup Rasa Berlima start from 150.000 untuk 5 orang. Kemudian, promo buffet early bird start harga mulai 65.000/pax dengan estimasi reservasi sampai 10 Maret 2025. Serta, regular buffet start from 75.000 minimal pemesanan 20 pax. Kami sangat berharap masakan dan experience berbuka puasa di Kapal Rooftop Cafe bisa dinikmati oleh semua kalangan,” jelas Chef Kusmawardi. Zafira Auzia Najwa sebagai pengunjung mengaku sangat menikmati bersantap menu Rasa Ramadhan di Kapal Rooftop Cafe. Selain menu yang disajikan fresh, di sana ia bisa menikmati view semi alam yang khas, serta interior dan pelayanan yang memorable layaknya sebagai penumpang kapal pesiar. Di samping itu, ia menyebut rasa masakan nusantara yang dibuat tim Kapal juga lezat dan authentic. Menurutnya, pelayanan yang memuaskan didukung juga dengan kebersihan tempat dan makanan yang sangat baik cocok untuk event berbuka bersama teman-teman dan keluarga. (din/wil)

Semarak Ramadhan di UMM: Memahami Peran Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Semarak Ramadhan yang penuh keberkahan selama bulan Suci. Salah satu acaranya yakni Pengajian Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar pada 5 Maret 2025. Dalam kesempatan ini, UMM menghadirkan tokoh Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.. yan menyampaikan tema menarik ‘Membumikan Dakwah Kultural Muhammadiyah”. Dalam pengajiannya, Danarto menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan tradisi budaya dalam kehidupan beragama. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang salah kaprah dalam memandang budaya. Menganggap keterlibatan budaya dalam agama dapat menimbulkan unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat. Akibatnya, banyak yang menjauhi budaya, bahkan menjadi anti budaya. Terdapat dua aliran dalam Islam yang berpengaruh terhadap pandangan ini, yaitu puritanisme yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Wahab, dan Islam Modernisasi yang diprakarsai oleh Muhammad Abduh. “Islam puritan menekankan pada penghapusan segala hal yang berhubungan dengan tradisi dan budaya, dan kembali meniru apa yang ada pada masa Nabi dan sahabat. Dalam pandangan mereka, tradisi yang tidak ada pada zaman Nabi dianggap sebagai bid’ah,” jelasnya. Di lain sisi, Danarto juga menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kaum modernasi dalam Islam adalah dengan meneliti hadist-hadist Nabi, memverifikasi keasliannya, dan hanya mengamalkan yang dinyatakan shohih. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar umat Islam dapat menerapkan etika, moral, dan tradisi pada masa Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa istilah bid’ah atau inovasi tidak seharusnya digunakan untuk menolak segala bentuk perkembangan dalam masyarakat, termasuk pengetahuan, filsafat, dan ilmu politik. Bid’ah harus dipahami dalam konteks nilai-nilai dasar, moral, dan karakter yang terkandung dalam ajaran Islam, bukan pada bentuk atau praktiknya saja. “Merujuk pada surat Al-Hujurat ayat 13, eksistensi berbagai budaya, suku, dan bangsa, dan menekankan bahwa budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus diterima dan dihargai. Budaya bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus dipahami dan diselaraskan dengan ajaran Islam,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bisa berdakwah melalui ceramah atau tabligh, tetapi juga dapat melibatkan budaya sebagai sarana dakwah. “Muhammadiyah dapat berdakwah melalui budaya dengan mentransformasi nilai-nilai yang sudah ada dan mengemasnya dalam konsep yang lebih berkemajuan, Melalui budaya yang berkemajuan, dakwah Muhammadiyah akan semakin menarik bagi banyak orang. (nam/wil)

Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah jadi Konsen Muhadjir Effendy

Di tengah perkembangan pesat dunia bisnis, Muhammadiyah menyadari pentingnya perubahan mindset, terutama dalam melihat bisnis sebagai sarana yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah. Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Efendy, M.A.P. dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Agenda diselanggarakan pada 26 Februari 2025 itu berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan terus mendorong perubahan dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang masih memandang dunia usaha dengan skeptis, menganggapnya “kotor” karena adanya praktik kecurangan dan permainan dalam perdagangan. Oleh karena itu, Muhammadiyah bertekad untuk mengubah pandangan ini dan menciptakan peluang bisnis yang mengutamakan etika, kejujuran, dan prinsip agama yang kuat. Muhadjir mengatakan, konsep kapitalisme religius menjadi landasan utama dalam pembangunan ekonomi ini. Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa bisnis tidak harus berseberangan dengan nilai-nilai agama. Kapitalisme yang dibangun dengan etika agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berusaha menumbuhkan para kapitalis yang sangat agamis, dan memiliki tanggung jawab sosial dan moral dalam setiap langkah bisnis yang diambil. Serta menekankan pentingnya pemahaman bahwa bisnis harus dijalankan dengan landasan etika yang kuat. “Kapitalisme yang lahir dengan prinsip agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah bagi umat,” ujarnya. Di sisi lain, pembinaan birokrasi Muhammadiyah juga menjadi fokus penting. Untuk merespons dinamika zaman yang terus berubah, organisasi ini menyadari bahwa birokrasi yang kaku tidak lagi efektif. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk membangun sistem yang lebih fleksibel dan inklusif, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, serta mendukung keberlangsungan bisnis dan usaha yang dijalankan. Salah satu inovasi menarik adalah dalam hal kepemilikan bisnis. Muhammadiyah menyadari bahwa bisnis yang sukses tidak hanya dapat dimiliki oleh pengurus organisasi, tetapi juga bisa dibagi dengan warga Muhammadiyah atau mitra yang terlibat. Hal ini membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam ekonomi, tidak hanya dalam skala individu tetapi juga secara kolektif. Ini adalah salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa bisnis Muhammadiyah dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Peluang lebih besar hadir dalam dunia ritel, yang diharapkan menjadi tempat distribusi utama produk-produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan adanya outlet ritel, produk dari UMKM warga Muhammadiyah dapat lebih mudah diakses, memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal. Tentunya, produk yang dijual harus memenuhi standar kelayakan, baik dari segi kualitas maupun kemasan. Jika ada produk yang belum memenuhi standar, outlet memiliki kewajiban untuk membina produk tersebut agar dapat lebih diterima di pasar. “Kemudian kita mengontrol sendiri sirkulasi barang yang ada di Mentari Mart, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun dan diatur oleh manajemen Muhammadiyah,” jelasnya. Sebagai contoh, bisnis pada sektor kesehatan yakni infus Suryavena yang diluncurkan oleh Muhammadiyah yang menawarkan produk infus dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan kesuksesan distribusinya, peta geospasial akan digunakan untuk mengukur kelayakan wilayah yang potensial untuk mendirikan outlet, sehingga mengurangi risiko kebangkrutan. Dalam hal pemberdayaan, Muhammadiyah juga memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMK Muhammadiyah jurusan perniagaan. Mereka akan diberdayakan untuk menjadi tenaga kerja terampil di berbagai bisnis yang didirikan, seperti di outlet Mentari Mart yang akan segera hadir. “Saya mempunyai mimpi bahwa sosial enterprise dapat menjadi prioritas utama dalam ekonomi kita di kemudian hari, setelah BUMN, Swasta, Koperasi, dan Bisnis Sosial,” ujarnya. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Muhammadiyah berupaya untuk menciptakan perekonomian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan membawa kesejahteraan bagi warganya dan masyarakat luas. Muhammadiyah terus berupaya untuk tidak hanya menjadi organisasi yang besar, tetapi juga menjadi pendorong perubahan sosial dan ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan semangat kapitalisme religius, pembenahan birokrasi, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah bergerak untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, berkeadilan, dan penuh berkah. (nam/wil)